Selasa, 06 Oktober 2009
Jawa Pos Cadangan devisa Indonesia terus merangkak naik. Data Bank Indonesia (BI) menyebut, per akhir September 2009, cadangan devisa sudah menembus angka USD 62,3 miliar, tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini berarti naik USD 4,4 miliar dibandingkan posisi akhir Agustus yang sebesar USD 57,9 miliar.
Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan, cadangan devisa tersebut sudah termasuk masuknya dana SDR dari IMF sebesar SDR 1,74 miliar atau setara dengan USD 2,7 miliar. ''Cadangan devisa ini mencukupi kebutuhan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang jangka pendek pemerintah,'' ujarnya di Kantor BI kemarin (5/10).
Menurut Budi, membaiknya perekonomian global, terutama negara mitra dagang, berpotensi memberi dampak positif pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III 2009. ''Pemulihan ekonomi global tersebut, terutama ekonomi negara mitra dagang, serta harga komoditas global yang cenderung meningkat, berpotensi mendorong kinerja ekspor lebih tinggi,'' katanya.
Sementara, impor diperkirakan masih rendah terkait dengan kebutuhan investasi yang masih lemah. Neraca transaksi berjalan triwulan III 2009, lanjut Budi, berpotensi mencatat surplus. Sementara di sisi transaksi modal dan finansial (TMF), meski sempat mengalami penyesuaian portfolio asing pada Agustus 2009, arus masuk dana asing dan investasi dalam bentuk portfolio masih mencatat surplus. ''Semua indikator positif,'' ucapnya.
Budi mengatakan, membaiknya Neraca Pembayaran Indonesia dan sentimen positif di pasar keuangan global turut mendorong kestabilan nilai tukar rupiah. ''Meski sempat mengalami tekanan pada akhir Agustus 2009, nilai tukar bergerak menguat dengan volatilitas yang menurun,'' terangnya. Kurs tengah BI kemarin mencatat, Rupiah ada di level 9.575 per USD atau menguat dibandingkan posisi Jumat (2/10) yang ada di 9.646 per USD.
Menurut Budi, penguatan rupiah ini didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang masih kuat seperti tercermin pada neraca transaksi berjalan yang mencatat surplus, imbal hasil yang menarik, serta persepsi risiko yang membaik sehingga menjadi daya tarik bagi investor asing.
''Selain itu, sentimen positif ekonomi global turut mendukung derasnya arus masuk modal asing ke Indonesia. Sehingga, saat ini Rupiah juga relatif masih kompetitif dibandingkan negara kawasan. Selama triwulan III 2009, rata-rata rupiah menguat 5,55 persen ke level Rp 9.973 per USD dengan volatilitas yang menurun,'' paparnya.
Muhammad Fauzi Halim, praktisi pasar uang menyatakan penguatan tidak hanya terjadi pada rupiah tapi juga mata uang kawasan lainnya seperti yen, dolar Singapura, serta peso Filipina seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di 6,5 persen di saat tren inflasi naik, menurut dia, mampu menjadi katalis penguatan rupiah hingga menembus di bawah 9.600 utnuk pertama kalinya sejak 7 Oktober 2008. (owi/kim)
Semoga Indonesia terus maju dan manjadi lebih baik.
Jawa Pos Cadangan devisa Indonesia terus merangkak naik. Data Bank Indonesia (BI) menyebut, per akhir September 2009, cadangan devisa sudah menembus angka USD 62,3 miliar, tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini berarti naik USD 4,4 miliar dibandingkan posisi akhir Agustus yang sebesar USD 57,9 miliar.
Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan, cadangan devisa tersebut sudah termasuk masuknya dana SDR dari IMF sebesar SDR 1,74 miliar atau setara dengan USD 2,7 miliar. ''Cadangan devisa ini mencukupi kebutuhan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang jangka pendek pemerintah,'' ujarnya di Kantor BI kemarin (5/10).
Menurut Budi, membaiknya perekonomian global, terutama negara mitra dagang, berpotensi memberi dampak positif pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III 2009. ''Pemulihan ekonomi global tersebut, terutama ekonomi negara mitra dagang, serta harga komoditas global yang cenderung meningkat, berpotensi mendorong kinerja ekspor lebih tinggi,'' katanya.
Sementara, impor diperkirakan masih rendah terkait dengan kebutuhan investasi yang masih lemah. Neraca transaksi berjalan triwulan III 2009, lanjut Budi, berpotensi mencatat surplus. Sementara di sisi transaksi modal dan finansial (TMF), meski sempat mengalami penyesuaian portfolio asing pada Agustus 2009, arus masuk dana asing dan investasi dalam bentuk portfolio masih mencatat surplus. ''Semua indikator positif,'' ucapnya.
Budi mengatakan, membaiknya Neraca Pembayaran Indonesia dan sentimen positif di pasar keuangan global turut mendorong kestabilan nilai tukar rupiah. ''Meski sempat mengalami tekanan pada akhir Agustus 2009, nilai tukar bergerak menguat dengan volatilitas yang menurun,'' terangnya. Kurs tengah BI kemarin mencatat, Rupiah ada di level 9.575 per USD atau menguat dibandingkan posisi Jumat (2/10) yang ada di 9.646 per USD.
Menurut Budi, penguatan rupiah ini didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang masih kuat seperti tercermin pada neraca transaksi berjalan yang mencatat surplus, imbal hasil yang menarik, serta persepsi risiko yang membaik sehingga menjadi daya tarik bagi investor asing.
''Selain itu, sentimen positif ekonomi global turut mendukung derasnya arus masuk modal asing ke Indonesia. Sehingga, saat ini Rupiah juga relatif masih kompetitif dibandingkan negara kawasan. Selama triwulan III 2009, rata-rata rupiah menguat 5,55 persen ke level Rp 9.973 per USD dengan volatilitas yang menurun,'' paparnya.
Muhammad Fauzi Halim, praktisi pasar uang menyatakan penguatan tidak hanya terjadi pada rupiah tapi juga mata uang kawasan lainnya seperti yen, dolar Singapura, serta peso Filipina seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di 6,5 persen di saat tren inflasi naik, menurut dia, mampu menjadi katalis penguatan rupiah hingga menembus di bawah 9.600 utnuk pertama kalinya sejak 7 Oktober 2008. (owi/kim)
Semoga Indonesia terus maju dan manjadi lebih baik.


0 comments:
Post a Comment